Tampilkan postingan dengan label Penilaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penilaian. Tampilkan semua postingan

UN 2014, Peran Sekolah Lebih Besar dalam Penentuan Kelulusan

Memasuki tahun baru 2014, kita kembali dihadapkan dengan adanya ujian nasional atau yang akrab dengan sebutan UN. Penegasan adanya UN ini telah ditetapkan dengan adanya Permendikbud Nomor 97 Tahun 2013 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional. Serta diikuti dengan terbitnya Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun 2013/2014 atau yang dikenal POS UN 2014.
Berdasarkan kedua produk hukum tersebut dijelaskan tentang kriteria kelulusan siswa dalam UN tersebut dengan melihat Nilai Akhir atau NA yang merupakan gabungan Nilai Sekolah (NS) dan Nilai UN. Adapun porsi untuk NS adalah 40% dan UN 60%. Untuk dapat lulus seorang siswa harus memperoleh rata-rata NA minimal 5,5 dan nilai UN minimal tiap mapel UN 4,00. Kriteria tersebut masih sama dengan ketentuan UN 2013 yang lalu. Demikian pula kisi-kisi UN menggunakan kisi-kisi UN 2013 atau tahun pelajaran 2012/2013.
Perbedaan yang ada pada UN kali ini adalah pada proporsi Nilai Sekolah atau NS yang mengambil 30% nilai ujian sekolah (US) dan 70% nilai rata-rata raport. Hal ini berbeda dengan tahun lalu yang menetapakan
NS diperoleh dari 40% nilai US dan 60% nilai rata-rata raport. Dengan demikian peran sekolah dalam penentuan kelulusan mendapatkan porsi yang lebih besar.
Adapun Permendikbud dan POS UN tersebut, bisa anda unduh di sini dan di sini.

Kisi-kisi Ujian Nasional 2012/2013

Di tengah upaya untuk mengadakan perubahan kurikulum pada 2013 nanti, rupanya Ujian Nasional (UN) masih digunakan sebagai instrumen penilaian akhir oleh pemerintah. Sebagai salah satu kriteria untuk menentukan kelulusan seorang siswa dari suatu jenjang sekolah. Hal ini telah ditegaskan oleh pemerintah baik melalui pernyataan resmi dari Mendikbud maupun pihak terkait seperti BSNP. Bahkan kini BSNP telah merilis kisi-kisi UN 2012/2013.
Ada beberapa perubahan yang perlu kita ketahui dalam UN 2013 ini. Diantaranya paket soal yang lebih variatif yakni menjadi 20 paket soal untuk tiap ruang UN, sehingga tiap peserta UN memegang paket soal yang berbeda satu dengan yang lain. Hal ini sebagaimana dinyatakan M. Nuh saat memberikan keterangan pers soal UN 2013 di Jakarta, Kamis. Pada kesempatan tersebut Mendikbud memberikan keterangan bahwa variasi soal yang tahun ini hanya ada lima macam akan ditambah menjadi 20 macam. 
"Setiap peserta didik dalam satu kelas akan mengerjakansoal yang berbeda semua. Ini yang diuji kemampuan perseorangan, bukan kolektif," katanya. Demikian sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.
Beliau juga menyampaikan adanya kemungkinan kenaikan standar kelulusan dari 5,5 menjadi 6 atau tetap mempertahankan 5,5 dengan meningkatkan tingkat kesulitan soal.
adapun proporsi soal yang tahun ini 10 persen soal mudah, 80 persen soal sedang, dan 10 persen soal sukar. Formulaisnya tahun depan menjadi 10 peren mudah, 70 persen sedang, dan 20 persen sukar.
Perubahan lain, rencana kisi-kisi UN 2013 ini akan diberlakukan untuk masa 3 tahun ke depan. Hal ini berdasarkan pengalaman bahwa tiap tahun kisi-kisi hanya mengalamai sedikit saja perbedaan. Hal ini sebagaimana dinyatakan ketua BSNP Aman Wirakartakusumah kepada kompas.com .
Pemerintah berharap perubahan UN ini tidak menimbulkan kekhawatiran para siswa dan guru. Jadi, bersiaplah.

Formula UN 2012

UN 2012 sudah didepan mata, April 2012 kembali menjadi ajang pengukuran kompetensi siswa. Di awali oleh SMA/SMK/MA pada 16 - 19 April 2012 dengan UN Utama dan UN Susulan 23 - 26 April 2012. Seminggu kemudian disusul SMP/MTs pada 23 - 26 April 2012 UNT Utama dan UN Susulan 30 Apri sampai dengan 4 Mei 2012. Selanjutnya untuk SD/MI dilaksanakan bulan Mei.

Adapun Formula UN 2012 pada prinsipnya masih sama dengan formula UN 2011. Dengan memberikan keleluasaan satuan pendidikan dalam memberikan andil terhadap penentuan kelulusan siswa. Dengan kriteria kelulusan sesuai dengan Permen No. 59 Tahun 2011 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dan Penyelenggara Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional serta berdasarkan POS UN 2012 yang telah diterbitkan BSNP dapat ungkapkan sebagai berikut :

    1. Peserta didik dinyatakan lulus US/M SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh
    satuan pendidikan berdasarkan perolehan Nilai S/M.

    2. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari:

  • a. gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan
    40% untuk nilai rata-rata rapor.

  • b. gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5
    untuk SMA/MA, dan SMALB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor.

  • c. gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1 sampai 5
    untuk SMK dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor.

    • 3. Kelulusan peserta didik dari UN ditentukan berdasarkan NA.

      4. Nilai Kompetensi Keahlian Kejuruan adalah:

  • a. gabungan antara nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan nilai Ujian Teori
    Kejuruan dengan pembobotan 70% untuk nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan 30% untuk nilai Ujian Teori Keahlian Kejuruan;

  • b. kriteria Kelulusan Kompetensi Keahlian Kejuruan adalah minimum 6,0 ;

    • 5. NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 3 diperoleh dari gabungan Nilai S/M
      dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan Nilai UN, dengan pembobotan 40% untuk Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk Nilai UN.

      6. Pembulatan nilai gabungan nilai S/M dan nilai rapor dinyatakan dalam bentuk dua desimal, apabila desimal ketiga ≥ 5 maka dibulatkan ke atas.

      7. Pembulatan nilai akhir dinyatakan dalam bentuk satu desimal, apabila desimal kedua ≥ 5 maka dibulatkan ke atas.

      8. Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata dari semua NA
      sebagaimana dimaksud pada butir nomor 5 mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol).

      9. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan melalui rapat dewan guru berdasarkan kriteria kelulusan


    Mari siapkan para siswa untuk menghadapi UN dengan program bermutu agar tercapai hasil yang tidak hanya berorientasi pada nilai tetapi agar tertanam kejujuran dan semangat kompetitif. Selanjutnya lebih lengkap hal-hal yang berkaitan dengan UN silakan unduh file tentang aturan main pada Ruang Download.

    UN 2012 Siap Digelar

    Gelaran dunia pendidikan kita memasuki tahun 2012 kembali menggeliat. Agenda nasional yang saat ini masih sarat dengan wacana, siap dilaksanakan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk menggelar Ujian Nasional kembali ditegaskan. Hal ini dinyatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang memastikan pemerintah tetap akan menggelar ujian nasional tahun 2012. Ujian Nasional dijadwalkan berlangsung pada April 2012.

    Menteri Nuh mengatakan, saat ini perdebatan mengenai UN sudah selesai. "Sekarang masalahnya adalah bagaimana melaksanakan UN dengan baik," ujarnya dalam jumpa pers, di Gedung Kemdikbud, Rabu (30/11). Turut mendampingi Mendikbud adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Khairil Anwar Notodiputro dan Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan Djemari Mardapi.

    Ada empat kunci pelaksanaan UN yang baik atau kredibel menurut Mendikbud, yang meliputi :
    Pertama, dijamin keamanan dan kerahasiaannya. Karena jika berkasnya bocor, maka kredibilitas UN itu sudah berkurang, bahkan hilang.
    Kedua, dari sisi ketepatan distribusi, harus tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat bahan yang mau diuji.
    Ketiga, pada hari pelaksanaan harus dijamin kelancarannya. Jangan sampai soal sudah ada semua tapi soal ujian yang dibagikan salah. “Kalau seandainya terjadi kesalahan, maka harus disiapkan satu sistem yang mampu mengantisipasi kesalahan tersebut,” katanya.
    Keempat, dalam sistem evaluasi harus dipastikan agar nilai rapor bisa menjamin bahwa nilai itu mencerminkan kemampuan sang anak. “Nilai rapor jangan mencekungkan atau mencembungkan nilai anak yang sebenarnya,” kata Menteri Nuh.

    Mendikbud juga menyampaikan sebagaimana dilansir Situs Kemdikbud, jika keempat kunci pelaksanaan tadi bisa dipenuhi, maka ada dua hal yang bisa diraih.
    Pertama, bisa dilakukan pemetaan tentang ragam kompetensi siswa dan penyebarannya.
    Kedua, informasi kualitas sang anak (lulus atau tidak lulus).

    Menteri Nuh juga menegaskan, bahwa ujian nasional bukanlah penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan satuan pendidikan. Namun, satuan pendidikan menentukan kelulusan berdasarkan :
    1). tuntas kegiatan belajar mengajar,
    2). akhlak yang baik, dan
    3). ujian nasional.

    Jadwal UN 2012

    SMA/MA
    UN Utama : 16-19 April 2012, dan UN Susulan : 23-26 April.
    SMP/MTs dan SMPLB
    UN Utama : 23-26 April 2012, dan UN Susulan : 30- 4 Mei 2012.
    SD/MI/SDLB
    UN Utama : 7-9 Mei 2012, dan UN Susulan : 14-16 Mei 2012.
    Adapun pengumuman Hasil UN tingkat SMA/MA dan SMK akan diumumkan pada 24 Mei 2012. Tingkat SMP/MTs, SMPLB dan SMALB pada 2 Juni 2012. Sedangkan untuk pengumuman kelulusan UN tingkat SD menjadi kewenangan setiap provinsi.

    Penggandaan Naskah UN
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan meningkatkan pengawasan dan keamanan terhadap soal Ujian Nasional 2012. Salah satu bentuk peningkatan pengawasan tersebut adalah dengan mengubah sistem penggandaan soal UN menjadi sentralisasi atau terpusat. Pada UN 2011, penggandaan dilakukan di setiap provinsi. Tahun depan, penggandaan soal akan dipusatkan dengan jumlah percetakan tidak lebih dari 10 lokasi.

    “Dengan begitu, pengawasannya lebih mantap, dan tingkat keamanan jadi lebih tinggi,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dalam jumpa pers di Gedung A Kemdikbud, (30/11), Jakarta. Menurut dia, dengan semakin sedikitnya jumlah percetakan, cakupan kontrolnya menjadi lebih sempit, sehingga bisa lebih fokus mengawasi dan mengamankan soal ujian.

    Penggandaan soal secara terpusat juga memudahkan pengawasan kualitas percetakan. “Kualitas percetakan nantinya akan menggunakan security printing,” tutur Menteri Nuh. Di setiap lembar naskah UN 2012 akan dicetak tanda tertentu, untuk memberikan ciri, di percetakan mana naskah soal tersebut dicetak. Sehingga jika terjadi kebocoran soal, akan lebih mudah untuk menelusurinya. “Selain itu, sentralisasi percetakan juga telah ditinjau dari aspek ekonomi, cost bisa ditekan,” ucapnya. Selain aspek ekonomi, aspek jarak distribusi juga menjadi pertimbangan.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengkaji ulang percetakan di setiap provinsi pada UN 2011 lalu. Ternyata, tidak semua provinsi mencetak naskah soal UN di provinsinya sendiri. Misalnya, Bali mencetak naskah di Jawa Timur. Diharapkan, meskipun penggandaan soal UN 2012 dilakukan terpusat, distribusi naskah tak menjadi hambatan.

    Sementara untuk pengamanan distribusi, Kemdikbud akan bekerja sama dengan pihak kepolisian di titik-titik tertentu, seperti di rayon atau tingkat kecamatan. di sekolah yang menjadi lokasi ujian nasional, tidak ada penempatan personil kepolisian untuk menjaga kondisi psikologis anak didik. Ujian Nasional 2012 akan berlangsung pada April untuk tingkat SMA/MA.

    Sumber : Kemdiknas

    Hasil UN 2010, Mari KIta Renungkan




    Pengumuman ujian nasional (UN) bagi siswa SMA/MA/SMK telah berlalu. Berbagai tanggapan akan hasil UN pun merebak di masyarakat dari yang mulai mendukung adanya UN maupun yang menolak. Dan kini kita tinggal menunggu hasil UN untuk tingkat SMP/MTs.



    Berbagai berita yang menyangkut pengumuman hasil UN mulai dari keberhasilan maupun kegagalan menimbulkan respon yang beragam. Mulai dari sisi kemanusiaan, psikologis, kajian keilmuan pendidikan dan sisi pandang yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

    Sementara itu dilaporkan sebanyak 5.795 (35,17%) sekolah dari total 16.467 sekolah yang mengikuti Ujian Nasional (UN) SMA/MA Tahun Pelajaran 2009/2010 lulus 100 persen. Jumlah total siswa di sekolah itu sebanyak 418.855 (27,52%).

    Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Selasa (27/04/2010) .

    Mendiknas menyebutkan, terdapat 267 (1,62%) sekolah yang lulus nol persen terdiri atas 51 (19,10%) sekolah negeri dan 216 (80,90%) sekolah swasta. Seluruh siswa atau sebanyak 7.648 (0,50%) siswa di sekolah itu diberi kesempatan mengikuti Ujian Ulangan pada 10-14 Mei 2010. "Tidak peduli meskipun negeri, tetapi kalau tidak ada yang lulus semua ya tetap tidak lulus. Jadi tidak ada pilih kasih karena (sekolah) negeri maka tidak boleh ada yang tidak lulus semua," katanya.

    Mendiknas mengatakan, dari 267 sekolah yang kelulusannya nol persen diantaranya di Provinsi DKI Jakarta ada 10 sekolah, Kalimantan Tengah (20 sekolah), Kalimantan Timur (39 sekolah), Sulawesi Tenggara (26 sekolah), Maluku Utara (20 sekolah), dan Gorontalo (14 sekolah).

    Beberapa sekolah negeri yang kelulusannya nol persen diantaranya SMA Negeri 1 Kampung Laut, Kabupaten Cilacap,Jawa Tengah; SMA Negeri 4 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah; dan SMA Negeri 1 Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

    Mendiknas menyebutkan, total siswa yang mengulang pada satu mata pelajaran sebanyak 40.002 siswa terdiri atas jurusan IPS 24.290 (60,72%) siswa, jurusan IPA 14.031 (35,08%) siswa, jurusan Bahasa 1.476 (3,69%) siswa, dan jurusan Agama 205 (0,51%) siswa.

    Adapun mata pelajaran yang paling banyak siswa mengulang untuk jurusan IPA adalah Biologi (31,29%), jurusan IPS adalah Bahasa Indonesia (37,87%), jurusan Bahasa adalah Bahasa Indonesia (62,26%), dan jurusan Agama adalah Bahasa Inggris (31,71%). "Sebagian besar anak-anak jurusan bahasa mengulang (mata pelajaran) bahasa Indonesia," kata Mendiknas.

    Pemerintah, kata Mendiknas, berdasarkan analisis terhadap hasil UN ini akan melakukan intervensi kebijakan. Data analisis ini mencakup setiap kabupaten kota yang jumlah ketidaklulusannya paling besar atau nilai rata-rata kelulusannya paling rendah, kemudian pada mata pelajaran apa yang mengulang. Selain itu, analisis ini didukung informasi data sekolah meliputi diantaranya jumlah guru dan fasilitas fisik sekolah. "Kita akan melakukan survei ke lapangan untuk mengetahui peta sebenarnya. Dari situ kita segera bisa menentukan intervensi kebijakan," katanya.

    UN 2010 Dipastikan Tetap Berjalan


    Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh akhirnya memastikan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tetap berjalan. Hal ini ditegaskan oleh Mendiknas dalam rapat dengan Komisi X DPR malam ini. Sebagaimana yang kami kutip dari situs Vivanews.com persoalan UN ini menjadi kontroversial karena terdapat dua pandangan yang terpecah mengenainya. Pandangan pertama menghendaki agar UN ditiadakan, sementara pandangan kedua menghendaki agar UN tetap dilaksanakan tahun ini.

    Penegasan akan pelaksanaan UN ini oleh Mendiknas dipastikan guna memberika jaminan kepastian bagi masyarakat dan peserta didik. Mendiknas menjelaskan, persoalan UN ini harus segera diputuskan agar pelaksanaannya tidak menjadi kacau. Terkait pelaksaan UN ini, Kementerian Pendidikan Nasional akan mengkonsultasikannya dengan Komisi X, baik terkait metodologi yang akan digunakan dalam UN, sampai kepada urusan anggarannya.
    Sementara itu kompas.com memberitakan bahwa penyelenggaran UN pascaputusan kasasi Mahkamah Agung, dinilai tetap bisa dilaksanakan dengan perbaikan-perbaikan. Adapun soal kredibilitas UN, DPR meminta agar pengawasan UN benar-benar ditingkatkan untuk menutup celah kecurangan.

    Demikian keputusan dalam rapat kerja Komisi X DPR dengan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh di Jakarta, Rabu (27/1/2010). Ketua Komisi X Mahyuddin mengatakan UN 2010 tetap dilaksanakan meskipun masih ada fraksi-fraksi yang tidak sepakat soal formulasi pelaksanaan UN.

    Komisi X juga menuntut adanya perbaikan metodologi dan formula UN tahun 2011. Untuk itu, Komisi X juga dilibatkan untuk mengkaji perbaikan UN di masa mendatang.

    Mendiknas mengatakan metode evaluasi UN sekarang ini paling banyak sisi positifnya dibandingkan dengan metode evaluasi lain. "Karena UN hanya salah satu metode evaluasi prestasi anak dan sekolah, ke depannya bisa direview atau dikaji ulang," ujar Nuh.

    Nuh mengatakan pemerintah terbuka untuk mengevaluasi pelaksanaan UN. Untuk tahun ini, pengawasan UN terus ditingkatkan. Pemerintah juga berkomitmen untuk melakukan intervensi yang dibutuhkan usai pelaksanaan UN di sekolah atau daerah tertentu yang belum mencapai hasil UN sesuai standar.

    Sumber :
    kompas.com
    Vivanews.com

    JADWAL UJIAN NASIONAL 2010

    Berdasarkan surat Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 178/MPN/HK/2009 tanggal 03 Desember 2009 perihal: Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2009/2010, maka dengan ini diberitahukan bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) akan menyelenggarakan UN pada tahun 2010 dengan jadwal sebagai berikut:
    Jadwal Ujian Nasional SMA/MA, SMALB, dan SMK Tahun Pelajaran 2009/2010
    • UN Utama (22 - 26 Maret 2010)
    • UN Susulan (29 Maret - 5 April 2010)
    • UN Ulangan (10 - 14 Mei 2010)
    Jadwal Ujian Nasional SMP/MTs dan SMPLB Tahun Pelajaran 2009/2010
    • UN Utama (29 Maret - 1 April 2010)
    • UN Susulan (5 - 8 April 2010)
    • UN Ulangan (17 - 20 Mei 2010)


    Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 SD/MI dan SDLB
    • UN Utama (4 - 6 Mei 2010)
    • UN Susulan (10 - 12 Mei 2010
    Mata pelajaran yang diujikan sama seperti tahun lalu kecuali program keagamaan untuk MA. Kriteria kelulusan sama seperti tahun lalu. Peserta didik mengikuti UN di sekolah penyelenggara masing – masing dengan sistem pengawasan acak dan ada ujian ulangan.

    Kisi-kisi Ujian Nasional 2009/2010


    Ujian Nasional (UN) 2010 kiranya sudah harus dipersiapkan dari sekarang. Hal ini sangat penting mengingat salah satu indikator keberhasilan sekolah adalah sukses Ujian Nasional (UN). Untuk itu silahkan dapatkan kisi-kisi Ujian Nasional 2009/2010 pada daftar link berikut ini :

    Peraturan Mendiknas Nomor 77 Tahun 2009
    Ujian Nasional Program Paket A, Program Paket B, Program Paket C, dan Program Paket C Kejuruan Tahun 2010

    Peraturan Mendiknas Nomor 75 Tahun 2009
    Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2009/2010

    Peraturan Mendiknas Nomor 76 Tahun 2009
    Ujian Nasional Program Paket C Kejuruan Tahun 2009

    Peraturan Mendiknas Nomor 77 Tahun 2009
    Ujian Nasional Program Paket A, Program Paket B, Program Paket C, dan Program Paket C Kejuruan Tahun 2010


    CLASSROOM ASSESSMENT TECHNIQUES


    In the 1990's, educational reformers are seeking answers to two fundamental questions: (1) How well are students learning? and (2) How effectively are teachers teaching? Classroom Research and Classroom Assessment respond directly to concerns about better learning and more effective teaching. Classroom Research was developed to encourage college teachers to become more systematic and sensitive observers of learning as it takes place every day in their classrooms. Faculty have an exceptional opportunity to use their classrooms as laboratories for the study of learning and through such study to develop a better understanding of the learning process and the impact of their teaching upon it. Classroom Assessment, a major component of Classroom Research, involves student and teachers in the continuous monitoring of students' learning. It provides faculty with feedback about their effectiveness as teachers, and it gives students a measure of their progress as learners. Most important, because Classroom Assessments are created, administered, and analyzed by teachers themselves on questions of teaching and learning that are important to them, the likelihood that instructors will apply the results of the assessment to their own teaching is greatly enhances.


    Through close observation of students in the process of learning, the collection of frequent feedback on students' learning, and the design of modest classroom experiments, teachers can learn much about how students learn and, more specifically, how students respond to particular teaching approaches. Classroom Assessment helps individual college teachers obtain useful feedback on what, how much, and how well their students are learning. Faculty can then use this information to refocus their teaching to help students make their learning more efficient and more effective.

    College instructors who have assumed that their students were learning what they were trying to teach them are regularly faced with disappointing evidence to the contrary when they grade tests and term papers. Too often, students have not learned as much or as well as was expected. There are gaps, sometimes considerable ones, between what was taught and what has been learned. By the time faculty notice these gaps in knowledge or understanding, it is frequently too late to remedy the problems.

    To avoid such unhappy surprises, faculty and students need better ways to monitor learning throughout the semester. Specifically, teachers need a continuous flow of accurate information on student learning. For example, if a teacher's goal is to help students learn points "A" through "Z" during the course, then that teacher needs first to know whether all students are really starting at point "A" and, as the course proceeds, whether they have reached intermediate points "B," "G," "L," "R," "W," and so on. To ensure high-quality learning, it is not enough to test students when the syllabus has arrived at points "M" and "Z." Classroom Assessment is particularly useful for checking how well students are learning at those initial and intermediate points, and for providing information for improvement when learning is less than satisfactory.

    Through practice in Classroom Assessment, faculty become better able to understand and promote learning, and increase their ability to help the students themselves become more effective, self-assessing, self-directed learners. Simply put, the central purpose of Classroom Assessment is to empower both teachers and their students to improve the quality of learning in the classroom.

    Classroom Assessment is an approach designed to help teachers find out what students are learning in the classroom and how well they are learning it. This approach has the following characteristics:

    * Learner-Centered

    Classroom Assessment focuses the primary attention of teachers and students on observing and improving learning, rather than on observing and improving teaching. Classroom Assessment can provide information to guide teachers and students in making adjustments to improve learning.

    * Teacher-Directed

    Classroom Assessment respects the autonomy, academic freedom, and professional judgement of college faculty. The individual teacher decides what to assess, how to assess, and how to respond to the information gained through the assessment. Also, the teacher is not obliged to share the result of Classroom Assessment with anyone outside the classroom.

    * Mutually Beneficial

    Because it is focused on learning, Classroom Assessment requires the active participation of students. By cooperating in assessment, students reinforce their grasp of the course content and strengthen their own skills at self-assessment. Their motivation is increased when they realize that faculty are interested and invested in their success as learners. Faculty also sharpen their teaching focus by continually asking themselves three questions: "What are the essential skills and knowledge I am trying to Teach?" "How can I find out whether students are learning them?" "How can I help students learn better?" As teachers work closely with students to answer these questions, they improve their teaching skills and gain new insights.

    * Formative

    Classroom Assessment's purpose is to improve the quality of student learning, not to provide evidence for evaluating or grading students. The assessment is almost never graded and are almost always anonymous.

    * Context-Specific

    Classroom Assessments have to respond to the particular needs and characteristics of the teachers, students, and disciplines to which they are applied. What works well in one class will not necessary work in another.

    * Ongoing

    Classroom Assessment is an ongoing process, best thought of as the creating and maintenance of a classroom "feedback loop." By using a number of simple Classroom Assessment Techniques that are quick and easy to use, teachers get feedback from students on their learning. Faculty then complete the loop by providing students with feedback on the results of the assessment and suggestions for improving learning. To check on the usefulness of their suggestions, faculty use Classroom Assessment again, continuing the "feedback loop." As the approach becomes integrated into everyday classroom activities, the communications loop connecting faculty and students -- and teaching and learning -- becomes more efficient and more effective.

    * Rooted in Good Teaching Practice

    Classroom Assessment is an attempt to build on existing good practice by making feedback on students' learning more systematic, more flexible, and more effective. Teachers already ask questions, react to students' questions, monitor body language and facial expressions, read homework and tests, and so on. Classroom Assessment provides a way to integrate assessment systematically and seamlessly into the traditional classroom teaching and learning process

    As they are teaching, faculty monitor and react to student questions, comments, body language, and facial expressions in an almost automatic fashion. This "automatic" information gathering and impression formation is a subconscious and implicit process. Teachers depend heavily on their impressions of student learning and make important judgments based on them, but they rarely make those informal assessments explicit or check them against the students' own impressions or ability to perform. In the course of teaching, college faculty assume a great deal about their students' learning, but most of their assumptions remain untested.

    Even when college teachers routinely gather potentially useful information on student learning through questions, quizzes, homework, and exams, it is often collected too late -- at least from the students' perspective - to affect their learning. In practice, it is very difficult to "de-program" students who are used to thinking of anything they have been tested and graded on as being "over and done with." Consequently, the most effective times to assess and provide feedback are before the chapter tests or the midterm an final examinations. Classroom Assessment aims at providing that early feedback.

    Classroom Assessment is based on seven assumptions:

    1. The quality of student learning is directly, although not exclusively, related to the quality of teaching. Therefore, one of the most promising ways to improve learning is to improve teaching.

    2. To improve their effectiveness, teachers need first to make their goals and objectives explicit and then to get specific, comprehensible feedback on the extent to which they are achieving those goals and objectives.

    3. To improve their learning, students need to receive appropriate and focused feedback early and often; they also need to learn how to assess their own learning.

    4. The type of assessment most likely to improve teaching and learning is that conducted by faculty to answer questions they themselves have formulated in response to issues or problems in their own teaching.

    5. Systematic inquiry and intellectual challenge are powerful sources of motivation, growth, and renewal for college teachers, and Classroom Assessment can provide such challenge.

    6. Classroom Assessment does not require specialized training; it can be carried out by dedicated teachers from all disciplines.

    7. By collaborating with colleagues and actively involving students in Classroom Assessment efforts, faculty (and students) enhance learning and personal satisfaction.

    To begin Classroom Assessment it is recommended that only one or two of the simplest Classroom Assessment Techniques are tried in only one class. In this way very little planning or preparation time and energy of the teacher and students is risked. In most cases, trying out a simple Classroom Assessment Technique will require only five to ten minutes of class time and less than an hour of time out of class. After trying one or two quick assessments, the decision as to whether this approach is worth further investments of time and energy can be made. This process of starting small involves three steps:

    Step 1: Planning

    Select one, and only one, of your classes in which to try out the Classroom Assessment. Decide on the class meeting and select a Classroom Assessment Technique. Choose a simple and quick one.

    Step 2: Implementing

    Make sure the students know what you are doing and that they clearly understand the procedure. Collect the responses and analyze them as soon as possible.

    Step 3: Responding

    To capitalize on time spent assessing, and to motivate students to become actively involved, "close the feedback loop" by letting them know what you learned from the assessments and what difference that information will make.

    Five suggestions for a successful start:

    1. If a Classroom Assessment Techniques does not appeal to your intuition and professional judgement as a teacher, don't use it.

    2. Don't make Classroom Assessment into a self-inflicted chore or burden.

    3. Don't ask your students to use any Classroom Assessment Technique you haven't previously tried on yourself.

    4. Allow for more time than you think you will need to carry out and respond to the assessment.

    5. Make sure to "close the loop." Let students know what you learn from their feedback and how you and they can use that information to improve learning.
    Source : By Thomas A. Angelo and K. Patricia Cross
    From Classroom Assessment Techniques, A Handbook for College Teachers, 2nd Ed.


    Pembahasan Soal UN 2009


    Penasaran dengan hasil ujian nasional (UN)? O, pasti, begitu kan? Nah supaya anda tidak penasaran coba deh kamu buka pembahasan UN di sini. Klik aja pada side bar Pembahasan Soal UN 2009 atau buka dan atau download pada nama mapel berikut ini, berikut mapel UN pada SMP/MTs. silahkan klik :
    Bahasa Indonesia
    Bahasa Inggris
    Matematika
    IPA
    Adapun untuk SMA, bisa klik di sini.
    Silahkan anda coba cocokan dengan hasil pekerjaan UN anda, setidaknya anda dapat memiliki gambaran kemampuan anda dalam mengerjakan soal UN.

    Tentu saja hasil pembahasan ini tidak memiliki kebenaran mutlak ya kan. Ini hanya pembahasan yang dilakukan oleh sebuah lembaga bimbingan belajar yang cukup terpercaya. Selanjutnya mari kita berdo'a agar anda semua mampu memenuhi kriteria lulus dan mendapatkan predikat kelulusan yang memuaskan. Semoga, Amiin.

    Hari Ini, 504.315 Siswa SLTP UN

    SEMARANG - Hari ini, 504.315 siswa sekolah menengah lanjutan pertama (SLTP) se-Jawa Tengah mengikuti ujian nasional (UN). Mereka terdiari atas 382.714 siswa SMP, 114.308 pelajar MTs, 180 murid SMPLB, dan 7.113 siswa SMP terbuka.


    Ujian akan diadakan empat hari, sampai 30 April. Setiap hari siswa hanya mengerjakan ujian satu pelajaran. Pada hari pertama ujian bahasa Indonesia, kedua bahasa Inggris, ketiga matematika, dan keempat IPA.

    Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nurhadi Amiyanto, saat jumpa pers belum lama ini di Kantor Dinas Pendidikan Jalan Pemuda, menyatakan ujian susulan bagi siswa yang sakit akan diadakan pada 4-7 Mei.

    ”Pengumuman kelulusan SMA/MA/SMALB/SMK pada minggu II Juni, sedangkan SMP/MTs/SMPLB/SMPT minggu III Juni,” katanya.

    Lembar jawaban, kata dia, diserahkan ke panitia provinsi dan selanjutnya dipindai dua perusahaan yang memenangi lelang. ”Jawa Tengah selatan oleh Wahana Komputer, sedangkan utara oleh Data Internasional.”

    Selanjutnya lembar jawab dikirim ke Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk scoring.

    ”Lembar jawaban akan dikembalikan ke panitia provinsi untuk pencetakan data kolektif hasil ujian nasional dan surat keterangan hasil ujian nasional.”

    Dia menuturkan pemantauan ujian SMP/MTs/SMPLB, SMALB, dan SMK dilakukan penyelenggara pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan perguruan tinggi sebagai tim pemantau independen (TPI). ”TPI dibentuk BSNP dengan anggota akademisi, widyaiswara, anggota profesi pendidikan nonguru, dan mahasiswa.” (H11-53)
    Sumber : suara merdeka 27/04/2009
    ======= Guru adalah Jabatan Profesional, Mengemban dan Melaksanakannya adalah Pengabdian kepada Allah SWT, Bangsa dan Negara, serta Generasi Penerus Bangsa======